Nomor Rekening:
BRI 0991.01.006400.53.2
an Seruan Hati Nurani
BSM 007 0222 885
an YAY. Seruni Foundation
BCA 777 098 5247
a.n Lina Yulianti

Bantuan langsung :

Seruni Foundation
Office :
Metro Trade Center
Kav B.36 Lt.2
Jl. Soekarno Hatta 607
Bandung
Telp 022- 70228450

workshop :
Haur Mekar C.39
Bandung 40133
Telp/Fax. 022 - 2531632
Username:   Password:  
  RSS
Bandung Mountain
Home   Profil   Berita & Artikel   Anak Asuh   Sponsor   Donasi   Dokumen   Galeri   Buku Tamu   Contact    
Berita & Artikel
Ditulis oleh : Admin Seruni - 29/07/08 @ 10:50AM

Sedikit Kepedulian untuk Kesempatan Besar

PENDIDIKAN formal memang bukan segala-galanya. Tapi nyatanya, tingkat pendidikan berpengaruh pada peluang bekerja, posisi di bidang kerja, tingkat salary dan fasilitas yang dapat dinikmati. Selain itu pendidikan juga menentukan perilaku individu dalam rumah tangga, tanggung jawab sosial. Pendidikan merupakan salah satu jalur untuk merubah nasib ke arah lebih baik.

 Tono dan Heru hanya dua contoh dari jutaan anak-anak di Indonesia yang terancam bahkan tidak bisa melanjutkan sekolah karena kesulitan ekonomi. Padahal melalui pendidikan, mereka berpotensi menggapai impian dan cita-citanya, serta dapat mengubah taraf hidup diri dan keluarganya.

Data Departemen Pendidikan Nasional mencatat, dari 25.982.000 siswa tingkat SD pada tahun ajaran 2005/2006, jumlah siswa yang putus sekolah mencapai 824.684 anak. Sedangkan untuk tingkat SMP, dari 8.073.086 siswa, jumlah anak yang putus sekolah sebanyak 148.890. Keterbatasan ekonomi memang menjadi faktor utama anak putus sekolah. 

Dan jumlah tersebut terus bertambah tiap tahunnya. Sebagaimana termuat dalam Kompas edisi Selasa (18/3), menurut data resmi yang dihimpun dari 33 Kantor Komnas Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi, jumlah anak putus sekolah pada tahun 2007 sudah mencapai 11,7 juta jiwa. Jumlah itu pasti sudah bertambah lagi tahun ini, mengingat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk.

Peningkatan jumlah anak putus sekolah di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Lihatlah, pada tahun 2006 jumlah keseluruhan anak putus sekolah di Indonesia “masih” sekitar 9,7 juta anak; namun setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa. 

Bayangkan, gairah belajar hampir 12 juta anak terpaksa dipadamkan. Dan hampir 12 juta harapan yang melambung, terjun bebas dan kandas di dataran realitas yang keras. Ini bencana nasional dengan implikasi yang sangat luas.

Fakta ini bertolak belakang dengan agenda nasional beberapa tahun lalu; betapa anak-anak itu dan orangtua mereka dibujuk dan dirayu melalui kampanye yang sangat masif di televisi; termasuk program populer Ayo sekolah yang diprakarsai aktor Rano Karno; supaya mereka mau bersekolah. Tahu-tahu sekarang mereka harus meninggalkan bangku sekolah.

Pendidikan formal memang bukan segala-galanya. Beberapa pengusaha besar di Indonesia, seperti Liem Sioe Liong, cuma lulusan sekolah dasar. Tapi itu kasus yang istimewa. Dalam kenyataan yang umum, tingkat pendidikan berpengaruh mutlak terhadap peluang bekerja, posisi di bidang kerja, tingkat salary dan fasilitas yang dapat dinikmati; menentukan pula terhadap perilaku individu dalam rumah tangga, tanggung jawab sosial; dan mempengaruhi bobot independensi individu di bidang sosial-politik

Secara kasat mata saja kita sudah bisa melihat dampak langsung dari begitu besarnya angka putus sekolah di Indonesia. Pengamen cilik dan usia remaja kini bergentayangan di seluruh wilayah negeri ini.

Menurut Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun ini terjadi di tingkat SMP, yaitu 48 %. Adapun di tingkat SD tercatat 23 %. Sedangkan prosentase jumlah putus sekolah di tingkat SMA adalah 29 %. Kalau digabungkan kelompok usia pubertas, yaitu anak SMP dan SMA, jumlahnya mencapai 77 %. Dengan kata lain, jumlah anak usia remaja yang putus sekolah tahun ini tak kurang dari 8 juta orang.

Bayangkan, 8 juta remaja yang masih labil dan mencari identitas diri terpaksa putus sekolah; terpaksa meninggalkan teman-temannya yang masih terus bersekolah; dan terpaksa menelan kenyataan pahit sebagai manusia yang gagal dan tereliminasi. Ini problem sosial yang dahsyat!

Menurut Arist Merdeka Sirait, ”Dampak ikutan, anak-anak yang berkeliaran di jalan-jalan di Jakarta juga akan terus bertambah. Setelah mereka putus sekolah tentu mereka akan berupaya membantu ekonomi keluarga dengan bekerja apa pun.”

Menurut catatan Komnas PA, pada tahun 2007 sekitar 155.965 anak Indonesia hidup di jalanan. Sementara pekerja di bawah umur sekitar 2,1 juta jiwa. Anak-anak tersebut sangat rawan menjadi sasaran perdagangan anak.

Bukan cuma itu. Anak-anak yang hidup di jalanan itu juga sangat potensial disalahgunakan oleh kejahatan yang terorganisasi. Tekanan untuk bertahan hidup dan godaan untuk hidup mewah adalah dua titik lemah para remaja yang masih labil itu; sehingga mereka bisa dibujuk dengan gampang untuk melakukan tindak kriminal.

Pola, siklus atau lingkaran kehidupan seperti inilah yang terus menerus terjadi. akibatnya orang miskin tetap miskin. bahkan terus bertambah. Pencerdasan bangsa adalah jawabannya. Siapa yang harus melakukannya? Pemerintah tidak bisa diharapkan. Dengan anggaran pendidikan yang jauh dari ideal sebesar 20 persen APBN, kita tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.

Dendam Kemiskinan

Inilah potret buram dunia pendidikan Indonesia hari ini. Kalau ternyata Anda tiba-tiba diliputi rasa bersalah, prihatin dan cemas setelah melihat potret jelek itu, beryukurlah, ternyata Anda masih normal dan memiliki moral yang tinggi. Dan bersyukurlah, karena bukan Anda atau kerabat dekat Anda yang hari ini terpaksa putus sekolah.

Anak-anak itu ada di sekitar kita. Mungkin beberapa di antaranya adalah anak tetangga Anda. Dan siapa tahu, salah seorang di antaranya masih kerabat Anda, tapi mungkin berada di tempat yang jauh. Yang pasti, mereka adalah tunas-tunas harapan bangsa yang besar ini

Sepatutnya kita tidak bersikap masa bodoh, dan berdalih bahwa itu tanggung jawab pemerintah. Tapi paling tidak ada di antara kita yang tersentuh dan ingin ikut membantu berandil pada perbaikan rakyat, bangsa dan negara ini. Banyak orang orang lain yang peduli dan mendedikasikan hidupnya untuk membantu mereka yang kurang beruntung.

Harian Kompas 28 Juli 2007 memuat cerita Sofyan Tan (48), pria keturunan Tionghoa asal Desa Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara. Saat itu usianya 33 tahun. Gelar dokter sudah disandang, tetapi ia memilih tak praktik dokter. Ia menghidupi sekolah Iskandar Muda yang dibangun dari berutang Rp 60 juta pada tahun 1987. "Ada rasa dendam yang tinggi untuk menghapus kemiskinan dan diskriminasi," kata Sofyan di kantor perguruan Iskandar Muda, Sunggal, Medan, Selasa (24/7)

Terlahir dari keluarga miskin sudah membuat orang tak punya akses untuk maju. Ditambah terlahir sebagai keturunan China, membuat ia merasakan banyak diskriminasi. Pengalaman tentang diskriminasi ia alami saat ujian negara sarjana kedokteran pada mata kuliah Penyakit Mata. Ia gagal hingga lima kali dalam ujian mata kuliah tersebut. Dosen penguji selalu bertanya, "Kamu China?" Ia lulus setelah dekan ikut hadir dalam ujian. 

Sekolah pun berkembang tidak hanya SD, tetapi juga TK, SMP, SMA, dan SMK. Ia juga membuat sistem anak asuh dengan nama Program Anak Asuh Berantai dan Bersifat Silang. Orangtua dari golongan pribumi mengangkat anak asuh dari nonpribumi. Sebaliknya, orangtua anak asuh dari golongan nonpribumi membiayai anak pribumi

Ia menemukan cara untuk keluar dari kepompong diri, lingkaran setan kemiskinan, dan tekanan diskriminasi. Cara itu adalah pendidikan.

Cara lain dilakukan Jerry Yan, atau yang dikenal debagai Do Min Si (Tao Ming Se), bintang film Taiwan Setiap bintang punya cahayanya sendiri.  Setelah sempat meredup, sinarnya kembali terlihat dengan cara lain. Di tengah kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk kegiatan sosial. Aktor yang sempat menghebohkan Asia lewat perannya dalam serial drama Meteor Garden ini sudah menjadi duta World Vision Asia untuk anak-anak miskin selama hampir 5 tahun.

Sebelum terpilih menjadi duta World Vision Asia, Jerry telah membantu anak-anak yang kurang mampu. Dengan kapasitasnya sekarang, ia dapat berkampanye ke beberapa negara untuk memperluas jangkauannya. Bahkan, ia telah mengunjungi Indonesia pada tanggal 20 Desember 2006. Sampai saat ini, ia telah memiliki 29 anak asuh.

Sebagai salah satu aktor ternama, Jerry tidak lupa akan masa lalunya. Berangkat dari latar belakang ekonomi pas-pasan, membuat Jerry sangat menghargai anak-anak miskin.   

Jadi jangan bilang kita, anda, tidak sanggup membantu. Sedikit kepedulian kita, sangat besar artinya bagi mereka; kesempatan mengenyam dunia pendidikan tuk masa depan yang lebih cerah. (Ron*)

 

      

 

 

 


RSS 2.0
Seruni Foundation Powered by SiteX 0.7.4 Beta
Copyright 2007-2010 modified and addon by irfannurd