Tak Berdaya Akibat Gempa
Gempa 7,3 SR mengguncang Jawa Barat pukul 14.55 WIB, Rabu, 2 September lalu. Selain korban jiwa, gempa yang berpusat pada kedalaman 30 km di Samudra Hindia atau 142 km barat daya Tasikmalaya, ini mengakibatkan ribuan rumah rusak. Korban meninggal dan rumah rusak terjadi sedikitnya di delapan kabupaten dan kota di Jawa barat, serta sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
Data terakhir yang tercatat di Satuan Koordinasi dan Pelaksana Penanggulangan Bencana Jawa Barat, korban tewas mencapai 73 orang dan 900 orang cedera. Korban yang belum ditemukan 34 orang. Mereka adalah yang tertimpa longsor di Cicangkareng, Cianjur. (TEMPO Interaktif, 07/09). Di lokasi ini pula, korban meninggal, luka-luka, dan hilang paling banyak ditemukan.
Sementara jumlah total rumah yang rusak akibat gempa di Jawa Barat mencapai 148.469 rumah, meliputi 5.412 rumah rusak total, 43.239 rumah rusak parah, dan 99.818 rusak ringan.
Serba darurat
Kini derita pun dialami korban gempa yang selamat. Tekanan psikologis akibat kehilangan orang-orang terdekat bukan akhir penderitaan mereka. Selama lebih dari sepekan para korban harus tinggal di pengungsian dengan kondisi seadanya.
Seperti ratusan pengungsi yang tersebar di sejumlah tenda darurat di Desa Pamoyanan dan Desa Cikangkareng, Kabupaten Cianjur. Aroh (35) misalnya, yang tinggal di tenda pengungsian Cisalak, Desa Cikangkareng, mengaku tersiksa tinggal di pengungsian. ”Kalau siang hari panas sekali, ditambah lagi dengan debu yang beterbangan. Kalau malam juga dingin sekali, apalagi alasnya hanya terpal,” kata Aroh.
Derita serupa dialami warga warga Desa Jayapura, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. ”Pengungsi sekarang butuh air bersih. Karena kemarau, sumur warga banyak yang kering dan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) juga alirannya kecil,” kata Mimin Nurjanah (35). Mimin adalah satu di antara ratusan korban gempa Tasikmalaya yang juga mengungsi dan ditampung di tenda darurat.
Selain keperluan air bersih yang mendesak, korban gempa yang tinggal di tenda pengungsian juga memerlukan pelayanan kesehatan. Situasi pancaroba ditambah kondisi yang memaksa mereka untuk tinggal di tenda membuat para pengungsi itu rentan jatuh sakit.
Anak Terancam Tak Sekolah
Gempa juga mengancam keberlangsungan anak-anak belajar. Selain bangunan sekolah yang hancur, buku dan seragam mereka juga tidak terselamatkan. Di Kabupaten Garut terdapat 689 ruang kelas sekolah yang mengalami kerusakan dengan kerugian Rp 40,589 miliar. Kerusakan yang diderita itu meliputi 154 SD dengan 462 ruang kelas rusak berat, 46 SD dengan 94 ruang rusak sedang serta 43 SD dengan 86 ruang kelas rusak ringan.
Disusul dua SMP dengan 14 ruang kelas rusak berat, dua SMP (10 ruang) rusak sedang dan dua SMP (2 ruang) rusak ringan. Dua SMA (6 ruang) rusak berat, dua SMA(2 ruang) rusak sedang serta tiga SMA (15 ruang kelas) rusak ringan.
Di Tasikmalaya kurang lebih 300 bangunan sekolah mengalami kerusakan. Di antaranya, 44 madrasah, 237 sekolah dasar (SD) dan 163 ruangan kelas belajar di SMP/SMA roboh atau hancur. Bangunan SD yang rusak antara lain di Kec. Salawu 25 sekolah, Bojonggambir 21 sekolah, Cigalontang 30 SD, Bantarkalong 22 SD, Cisayong 31 SD, Cibalong 27, Kadipaten 12 dan lainnya.
Sementara di Ciamis sebanyak 23 SD , 5 SMP, 11 SMA dan 7 SMK , seluruhnya rusak berat. Kerusakan paling parah adalah SD 2 Purwadadi, kecamatan Purwadadi. Sebanyak enam lokal kelas roboh..
Salurkan Bantuan Anda
Seruni Foundation mengadakan penggalangan dana, pakaian layak pakai dan sembako untuk disumbangkan kepada korban yang ditimpa musibah gempa. Bantuan bisa disalurkan ke rekening BCA 5140136389 a/n Darmayanti, Mandiri 1320006393582 dan Bank Syariah Mandiri 0070222885 a/n Yayasan Seruni Foundation. Bantuan barang dialamatkan ke Perumahan Graha Bunga GB8/19 Bintaro, Tangerang atau ke Jl. Haurmekar C-39 Bandung. Untuk jemput zakat/barang mohon hubungi kami via sms/telp ke 085720196444. Insya Allah relawan kami akan membantu. Terima Kasih. Wassalam. Wr. Wb. (RA/Admin)